Pembelajaran Semi Andragogik Menjawab Tantangan Menjadi Guru di Era Digital

Pembelajaran andragogik melibatkan peserta didik ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Pada awalnya diperkenalkan oleh Alexander Kapp (Jerman 1883). Pembelajaran ini disebut juga pembelajaran cara orang dewasa.

Pembelajaran bagi orang dewasa dapat efektif, bilamana pembimbing (dalam hal ini adalah guru, pelatih , instruktur dan sejenisnya) tidak terlalu mendominasi kelompok kelas. Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang orang dewasa ikuti, berkaitan dengan konsep diri dan motivasi untuk belajar.

Orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan aktivitasnya atau kehidupan pribadinya, termasuk pengalamannya (termasuk pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar.

Sementara menurut Kartini Kartono (1997) mengemukakan bahwa sebagai perbandingan pedagogi lebih baik disebut sebagai andragogi, yaitu ilmu menuntun/ mendidik manusia atau membentuk manusia; yaitu membentuk kepribadian seutuhnya agar ia mampu mandiri di lingkungan sosialnya.

Selama ini guru dalam mengajar di sekolah (mendidik usia anak sekolah) menggunakan konsep pedagogi (peserta didik memiliki usia anak sekolah), termasuk peserta didik sekolah menengah (SMP,SMA/SMK).

Suasana Pembelajaran Kekinian

Dengan perkembangan sistem informasi yang mendunia (global) yang tidak bisa dibendung, maka harus ada perubahan cara pembelajaran bagi anak usia sekolah. Mereka bisa mengakses perkembangan informasi, istilahnya selalu update. Di sinilah diperlukan guru yang juga melek teknologi dan selalu update juga informasi terbaru.

 

Semi Andragogi, Perlakukan Peserta Didik Sebagai Orang Dewasa

Secara usia, peserta didik sekolah menengah adalah usia remaja belum usia dewasa. Tetapi zaman sekarang anak-anak kelompok usia ini lebih menguasai teknologi informasi dibandingkan dengan orang tuanya dan juga dengan guru di sekolah. Sehingga mereka beranggapan bahwa dirinya lebih menguasai teknologi sekarang.

Orang tua atau gurunya dianggap orang yang tidak update keadaan sekarang, sehingga informasi ataupun nasehat dari mereka cenderung tidak di dengar. Dia merasa lebih pinter dari gurunya. Dan memang keadaan guru sekarang yang lahir sebelum era digital dan selanjutnya mengenal zaman digital, mulai belajar teknologi digital dan rata-rata hanya sekedar memiliki perangkat dan bisa menggunakannya.

Di sinilah diperlukan guru yang melek teknologi digital yang selalu update, setara dengan anak-anak zaman sekarang sehingga bisa mengendalikan peserta didik lebih bijak dalam menggunakan teknologi digital.

Dalam hal ini guru bisa melakukan pembelajaran andragogi (pembelajaran orang dewasa), peserta didik diperlakukan sebagai pribadi orang dewasa. Peserta didik bisa lebih dulu mengakses materi pelajaran dengan cara browsing di internet. Selanjutnya pertemuan dengan guru dalam pembelajaran tidak perlu guru memberi materi, tetapi peserta didik diajak untuk mengkritisi permasalahan yang ada yang merupakan ciri cara belajar orang dewasa (andragogi)

Pembelajaran Metode Problem Solving

Kehadiran guru justru sangat diperlukan untuk sharing tentang permasalahan yang ada, dan untuk pembentukan karakter peserta didik. Sesuai dengan makna andragogi yaitu ilmu mendidik atau membentuk manusia memiliki kepribadian seutuhnya agar peserta didik mampu mandiri di tengah lingkungan sosialnya.

 

Facebook Comments
__Posted on
May 11, 2019
__Categories
Guru Milenial
Avatar

Author: Wartini, S.Pd. Bio

Guru Go Blog, hobi menulis buku. Suka tantangan, penyuka kopi hitam. Seorang ibu dari 2 anak. Melalui blog ini berbagi inspirasi untuk kalangan guru dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *