MENJADI GURU DI ERA DIGITAL

Hakikat menjadi guru yang sebenarnya adalah tidak hanya sekedar sebagai profesi yang memiliki kemampuan untuk mengajar, mentransfer ilmu. Kalau zaman dulu memang guru adalah sumber berbagai ilmu, guru harus tahu segalanya. Memang guru-guru zaman dulu adalah orang yang mumpuni dalam segala hal.

Memiliki kepribadian yang kuat dan jiwa keguruannya militan. Para guru ini mendidik para siswanya dengan segenap jiwa dan raga, setiap saat tanpa dibatasi waktu. Maka guru-guru zaman dulu berhasil dalam pendidikan karakter para peserta didiknya.

Sekarang zaman sudah berubah, ada pergeseran paradigma di dunia pendidikan. Dengan berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi yang semakin canggih sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan.

Dunia pendidikan berhubungan erat dengan komponen utamanya yaitu guru dan peserta didik sehingga perubahan yang terjadi di dunia pendidikan berpengaruh langsung pada perubahan komponen utamanya. Perubahan yang terjadi pada peserta didik meliputi cara berfikir, cara belajar, dan cara bersikap. Di sinilah terjadi pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan dari yang semula berorientasi pada guru menjadi berorientasi pada peserta didik.

Pembelajaran Berbasis Teknologi

Fokus perhatian bukan bagaimana seorang guru mengajar, tetapi lebih difokuskan pada bagaimana peserta didik agar bisa belajar dan menikmati proses pembelajaran. Dengan perubahan paradigma ini, guru dituntut untuk menyesuaikan dalam membelajarkan peserta didik.

 

Guru Yang Siap Hadapi Tantangan Mendidik di Era Digital

Bagi dunia pendidikan, perkembangan teknologi bisa menjadi peluang maupun ancaman. Teknologi tidak bisa menggantikan peran guru, justru keberadaan guru sangat dibutuhkan peserta didik. Seorang guru di zaman digital harus memiliki cara khusus untuk mengendalikan kecanggihan teknologi dalam dunia pendidikan. Melek literasi digital sangat diperlukan untuk menghadapi permasalahan informasi saat ini, contohnya tentang berita-berita hoaks.

Untuk mengatasi permasalahan penyebaran berita-berita hoaks maka seluruh lapisan masyarakat harus melek literasi digital. Untuk membelajarkan masyarakat tentang melek literasi digital dimulai dari dunia pendidikan. Para guru inilah yang memiliki peran strategis untuk membelajarkan peserta didik melek literasi digital.

Artinya pendidik dalam hal ini adalah guru, bukan hanya memiliki berbagai perangkat teknologi masa kini, tetapi harus tahu bagaimana cara yang baik dan benar dalam menggunakannnya.

Kecanggihan teknologi ibaratnya seperti pisau, harus secara bijak dalam menggunakannya. Kalau teknologi ini benar dalam penggunaannya maka akan mendapatkan manfaatnya. Tetapi kalau salah dalam penggunaannya maka mala petaka yang didapat.

Untuk menjawab tantangan mendidik di era digital, guru perlu meyakini bahwa teknologi bukanlah perangkat yang utama dalam kegiatan belajar. Meski teknologi bisa melakukan segala hal, peran guru untuk mencetak peserta didik berkualitas di negara Indonesia tercinta ini tetap yang paling utama.

Belajar di Era Digital

Teknologi adalah alat, bukan tujuan akhir tetapi sebagai awal. Penggunaan teknologi diharapkan dapat meningkatkan komunikasi dua arah. Dengan teknologi internet misalnya, siswa sudah membaca materi pelajaran setelah diunduh. Sehingga waktu di kelas guru tidak lagi menerangkan materi pelajaran tetapi mengajak peserta didik untuk berpikir kritis.

Facebook Comments
__Posted on
May 1, 2019
__Categories
Guru Milenial
2
Avatar

Author: Wartini, S.Pd. Bio

Guru Go Blog, hobi menulis buku. Suka tantangan, penyuka kopi hitam. Seorang ibu dari 2 anak. Melalui blog ini berbagi inspirasi untuk kalangan guru dan masyarakat.

2 comments on “MENJADI GURU DI ERA DIGITAL”

  1. Pada alinea ke 4 di batis ke 6, mungkin bisa ditambahkan, bahwa guru juga bertugas untuk merangsang sikap kecerdasan siswanya, sehingga anak didik mampu dengan cepat dan cakap untuk mengambil sikap ketika terjadi sesuatu yang datangnya secara tiba – tiba, sehingga tidak akan gugup dalam mengambil langkah.
    Apalagi ketika kejadian tersebut beresiko dengan keselamatan jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *