MENGENAL URBAN FARMING DAN ASAL USULNYA

Urban Farming (Pertanian Urban) adalah budi daya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan di wilayah perkotaan dan sekitarnya. Perbedaan antara pertanian urban dan non urban cukup besar, dan tantangan yang ada pada pertanian urban bisa sebagai kekuatan dari urban farming itu sendiri.

Variasi kondisi sosio-ekonomi perkotaan, budaya, iklim dan luas lahan memunculkan banyak inovasi. Pertanian urban umumnya dilakukan untuk meningkatkan pendapatan atau aktivitas memproduksi bahan pangan untuk dikonsumsi keluarga, dan di beberapa tempat dilakukan untuk tujuan rekreasi dan relaksasi.

Urban Farming Zaman Mesir Kuno
  1. Sejarah Urban Farming Dari Masa ke Masa

Dlam sejarah masyarakat Mesir Kuno, sampah yang dihasilkan digunakan sebagai input pada pertanian urban. Pada awal abad ke 19 dibangun suatu konsep kebun individu karena kondisi kemiskinan dan kerawanan pangan saat itu.

Pada masa perang dunia I dan II berkembang Kebun Victoria di Kanada, Amerika Serikat dan Inggris. Yang di dalamnya diisi tanaman buah, sayuran, dan rempah daun. Hal ini dilakukan oleh masyarakat sipil untuk mengurangi tekanan produksi pangan yang ketika itu dipasok untuk memenuhi kebutuhan perang.

 

  1. Kenali, Sayangi dan Selanjutnya Lakukan Aktivitas Urban Farming

Pertanian Urban (pertanian perkotaan) memiliki dampak secara sosial, ekonomi dan emosional pada setiap orang. Berbagai orang telah melaporkan berkurangnya tingkat stress dan meningkatnya kesehatan mental karena memiliki kesempatan berinteraksi dengan alam melalui kebun. Pekarangan dan kebun yang terdapat di perkotaan diketahui dapat merelaksasi dan menenangkan, dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk beristirahat di kawasan perkotaan yang padat.

Berbagai Tanaman yang ada di halaman rumah

Telah terdapat dokumentasi bahwa kebun dan pekarangan yang dimiliki masyarakat meningkatkan hubungan sosial antar individu karena meningkatnya kontak antara komponen masyarakat, pergerakan setiap individu, dan kebanggaan. Meningkatnya kesehatan sosial masyarakat juga memiliki hubungan terhadap berkurangnya tingkat kriminalitas dan kasus bunuh diri. Pada sebagian orang, keberadaan kebun juga merupakan kebanggaan dalam hidup bertetangga. Kemampuan suatu individu dalam memproduksi bahan pangan sendiri juga dapat dianggap sebagai sebuah kebanggaan, terutama karena terbentuknya kemandirian.

Beberapa hal yang berkaitan dengan data wilayah perkotaan antara lain :

  • 50% penduduk dunia hidup di perkotaan
  • Penduduk perkotaan yang berpenghasilan rendah menghabiskan 40 – 60 % pendapatannya untuk makan
  • 250 juta penduduk yang dikategorikan rawan kelaparan berada di perkotaan.
  • Sebuah kota yang memiliki penduduk 10 juta jiwa, untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk memerlukan 6000 ton bahan pangan perhari. Bahan pangan harus diambil dari luar kota.

 

Dengan meningkatnya populasi dunia di kawasan urban (perkotaan), kebutuhan terhadap bahan pangan yang segar dan aman semakin meningkat. Maka urban farming menjadi solusi dan peluang untuk usaha bidang pertania di perkotaan.

Facebook Comments
__Posted on
February 4, 2019
__Categories
Urban Farming
Avatar

Author: Wartini, S.Pd. Bio

Guru Go Blog, hobi menulis buku. Suka tantangan, penyuka kopi hitam. Seorang ibu dari 2 anak. Melalui blog ini berbagi inspirasi untuk kalangan guru dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *