by

KEDUNG LUMBU PENYELAMAT PEJUANG BANGSA

Semua senjata dari pihak Belanda tidak bisa berfungsi, granat tidak bisa meledak saat digunakan untuk menyerang tentara Republik yang berlindung masuk ke lingkungan panembahan Kedung Lumbu. Ini adalah sebagian cerita heroik pada saat agresi Belanda tahun 1949. Apa sih istimewanya tempat ini? Siapa sebenarnya yang di makamkan di tempat itu? Kalau Anda penasaran, berarti sama dengan saya. Untuk menjawab rasa penasaran saya, maka saya menemui seorang tokoh yang berusia lebih dari 90 tahun namanya Bapak H Sirod (pesiunan guru SR) yang sekarang bertempat tinggal di desa Salamerta kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Mau tahu hasilnya?

Pintu Gerbang masuk kompleks makam

Kedhunglumbu adalah suatu tempat pesarean (makam) yang terletak di desa Kebanaran Kec. Mandiraja Kab. Banjarnegara. Tempat ini berupa kompleks pemakaman yang berada di tepi sungai Sapi (Kali Sapi). Sebelum masuk ke kompleks pemakaman itu terdapat gapura yang bertuliskan “MAKAM KI AGENG PENJAWI KEDUNG LUMBU” Desa Kebanaran.

Kharisma Kedung Lumbu: Tempat Persembunyian Tentara Republik Aman Dari Kejaran Musuh

Daerah sekitar makam tersebut pada zaman perang agresi Belanda tahun 1949 terjadi peristiwa heroik para pejuang bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan. Sekelumit cerita dari sebagian kecil perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa ini khususnya di wilayah Banjarnegara.

Menurut cerita mbah Buyut Ischak, pada masa agresi Belanda rumah beliau digunakan sebagai markas tentara Republik. Saat itu mbah Buyut Ischak memiliki 2 orang putra yaitu Santiyem dan Royan. Santiyem diperistri Asanraji yang pada saat itu bergabung dengan tentara Republik sedangkan Royan cenderung ikut tentara Belanda. Karena dalam satu lingkungan keluarga maka semua gerak gerik tentara Republik pasti diketahui oleh Belanda.

Pada saat itu mbah Buyut Ischak menjabat sebagai junjang krawat yaitu seorang perangkat desa Kebanaran sebagai Kayim (kaur kesra). Tugas mbah Ischak juga menghimpun panembahan-panembahan yang ada di desa Kebanaran termasuk panembahan Kedhunglumbu.

Mbah buyut Ischak mengatakan kepada tentara Republik saat itu: “kalau misalnya kalian diburu oleh tentara Belanda maka masuklah ke komplek makam Panembahan Kedhunglumbu, insyaallah kalian selamat”. Panembahan Kedhunglumbu (Ki Penjawi) pernah bersumpah akan melindungi semua orang yang berjuang untuk kebaikan akan dibela dan dilindungi oleh kekuatan Ki Naya Gembleng (Naya Kusuma) salah satu murid dari Ki Penjawi. Ki Naya Kusuma ini memiliki ilmu yang bisa meredam semua senjata dari kekuatan negatif (musuh) sehingga senjata-senjata musuh tidak bisa berfungsi. Siapakah sebenarnya Ki Penjawi ini?

Nara sumber : Bp H Sirod

Tersebutlah dalam cerita salah seorang Adipati Pesantenan mempunyai seorang anak bernama Raden Rumpakbaya. Putra sang adipati ini mengabdi di kerajaan Mataram. Pada waktu itu hubungan antara kadipaten Pati Pesantenan dengan kerajaan Mataram kurang baik. Sang Adipati dalam beberapa kali “pisowanan” tidak hadir. Sang Adipati mendapat peringatan keras dari Kanjeng Sultan Mataram. Demi memperbaiki hubungan antara kadipaten Pati Pesantenan dengan Mataram, maka sang Adipati menyempatkan hadir saat pisowanan.

Kehadiran Adipati di pisowanan saat itu mendapat tanggapan yang sinis dari nayaka praja dan kadang sentana Mataram. Sang Adipati marah, terjadilah pertengkaran adu mulut yang berakhir dengan peperangan.

Sang Adipati tidak bisa menandingi prajurit Mataram yang kuat itu. Mundurlah sang adipati meninggalkan bumi Pesantenan hijrah ke daerah “manca negara” yaitu wilayah Banyumas dan menggunakan nama samaran Ki Ageng Penjawi.

Raden Rumpakbaya putra sang adipati juga mengungsi ke kadipaten Panjer (sekarang Kebumen) dan minta perlindungan ke adipati Panjer, yang di kemudian hari R Rumpakbaya ini dikawinkan dengan putri adipati Panjer yang bernama Dewi Nawangwulan. Dari perkawinannya ini berputra dua yaitu Raden Somawangi dan Dewi Nawang Asih.

Konon Raden Rumpakbaya pergi dari daera Panjer untuk mencari Ayahandanya. Sampailah Ia di suatu daerah yang masih berupa hutan belantara di tepi sebuah sungai, sebagai tempat bersemedinya sang Ayahanda. Sekarang tempat tersebut sudah menjadi sebuah dusun di desa Kebanaran kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara, termasuk wilayah eks karesidenan Banyumas.

 

Kompleks Pemakaman Dengan Ekosistem Yang Masih terjaga Sampai Sekarang

Tempat tersebut dikenal dengan Kedung Lumbu, dan di tempat itu juga Ki Ageng Penjawi dimakamkan. Di kompleks pemakaman Kedhunglumbu ini masih terjaga ekosistemnya. Berbagai jenis tumbuhan yang usianya ratusan tahun masih terpelihara dan tumbuh subur sampai sekarang.

Jalan menuju kompleks makam

Bagaimana sepak terjang dan tingkat keilmuan Beliau yang menjadikan Kedhunglumbu ini berkharisma sampai dengan sekarang. Ki Ageng Penjawi ini juga terkenal memiliki murid-murid yang berilmu tinggi dan ditakuti oleh musuh. Salah satunya memiliki kemampuan meredam semua senjata musuh (Belanda) sehingga senjata-senjata itu tidak bisa berfungsi.

 

BERSAMBUNG

 

Referensi buku:

#Babat Banjarnegara

#Banjarnegara Berjuang

About Author: Wartini, S.Pd. Bio

Avatar
Guru Go Blog, hobi menulis buku. Suka tantangan, penyuka kopi hitam. Seorang ibu dari 2 anak. Melalui blog ini berbagi inspirasi untuk kalangan guru dan masyarakat.

Comment

News Feed