by

GURU MENULIS, GURU PROFESIONAL SEJATI

Guru professional mendapatkan penghargaan dari pemerintah, salah satunya adalah kenaikan pangkat. Guru menulis harusnya bukan sekedar untuk dapat naik pangkat, tetapi untuk meningkatkan profesionalisme seorang guru. Muncul keprihatinan saya melihat teman-teman guru yang kesulitan untuk naik pangkat. Regulasi yang ada terkait kenaikan pangkat, sepertinya kenaikan pangkat ini tidak menarik lagi bagi guru. Kalau dulu guru-guru itu berhenti di golongan IV/a bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tidak dapat naik pangkat. Tetapi pada akhir-akhir ini banyak guru yang tertahan pada golongan III/b. Apa sebetulnya yang menjadi permasalahan?

Di komunitas guru-guru, banyak faktor atau lebih tepatnya alasan mengapa mereka tidak dapat naik pangkat. Regulasi yang baru yang mengatur kenaikan pangkat jabatan fungsional guru (guru dan kepala sekolah) yang telah terbit yaitu:

  1. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi akademis (PermenPANRB) No.16 tahun 2009 tanggal 10 November 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
  2. Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 6 Mei 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabtan Fungsional Guru dan Angka kreditnya.

Berdasarkan peraturan Bersama itu, disebutkan dalam pasal 42: peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku efektif  pada tanggal 1 Januari 2013. Juklak syarat kenaikan pangkat/jabatan guru yang berbeda dengan peraturan sebelumnya.

Berikut beberapa kutipan: mulai guru golongan/pangkat III/b ke III/c dan seterusnya wajib melaksanakan pengembangan diri dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, karya teknologi/seni). Pada intinya peraturan baru ini mewajibkan guru harus menulis untuk dapat naik pangkat.

Faktor Penyebab Guru Tidak Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas

Mindset Guru Yang Harus Berubah

Peraturan yang baru ini menjadikan guru kontra produktif, tidak dapat naik pangkat selama bertahun-tahun. Kenaikan pangkat ini sepertinya sudah tidak menarik bagi para guru, padahal kenaikan pangkat dengan persyaratan angka redit pubikasi ilmiah dan lainnya sebenarnya adalah menjadikan guru itu lebih professional.

Maka harus ada perubahan mindset oleh para guru tentang pentingnya menulis. Dunia guru adalah dunia literasi; yaitu membaca, menulis dan mengajar. Guru yang mampu menulis dengan baik, maka guru tersebut adalah pembaca dan pendengar yang baik pula. Guru yang penulis akan selalu memiliki keilmuan yang terbarukan, sehingga tampil sebagai guru professional sejati.

Pentingnya Guru Menulis

Menurut PP Nomor 74 tahun 2008 menjelaskan bahwa kompetensi profesional guru meliputi kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni dan budaya yang diampunya. Oleh karena itu, guru harus menguasai disiplin ilmunya yang ditandai dengan:

  1. Penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan program satuan Pendidikan, mata pelajaran, dan atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.
  2. Penguasaan konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, seni yang relevan, yang secara konseptual selaras dengan program satuan Pendidikan, mata pelajaran dan atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.

Atas dasar regulasi di atas, guru mestinya menjadi penulis. Keuntungan yang akan diperoleh guru, jika guru menjadi penulis maka guru tersebut menguasai disiplin ilmunya dengan sangat baik. Penulis tentu akan berusaha mencari, membaca, dan menelaah setiap referensi yang akan digunakan sebagai bahan penulisan. Hal ini berarti bahwa penguasaan disiplin ilmu guru tersebut akan dikuatkan.

Guru penulis menguasai metode pembelajaran, karena guru penulis akan menjadi orang pertama yang mengetahui dan menguasai metode dan model pembelajaran yang paling tepat untuk digunakan dalam penyampaian materi pelajaran ke peserta didik.

Guru Penulis Adalah Guru Yang Merdeka

Pidato singkat Mas Mentri Pendidikan dan Kebudayaan saat peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2019, yang intinya akan berjuang untuk memerdekakan guru. Guru merdeka untuk melakukan perubahan sekecil apapun.

Hal ini sungguh sangat menarik dan penuh dengan tantangan bagi para guru. Mengapa dikatakan penuh tantangan, karena selama ini sebagian besar guru di Indonesia sudah terbiasa dalam pola pikir dan budaya lama, terkungkung dan matinya kreativitas sehingga untuk mengubah mindset dan perilaku lama ke yang baru akan banyak mengalami kendala, banyak membutuhkan waktu dan kerja keras.

Semua harus optimis menghadapi perubahan, terutama para guru menerima peluang dan tantangan dari Mas Menteri Nadiem Makarim ini. Perubahan harus segera dimulai, dimulai dari guru mau melakukan perubahan sekecil apapun. Guru diberikan kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak  dalam konteks pembelajaran di kelas. Hal terpenting adalah mewujudkan kebebasan guru dalam berekspresi secara tertulis. Bukan hanya menulis buku-buku pelajaran atau menulis deskripsi Penelitian Tindakan Kelas, tetapi guru dapat membuat tulisan-tulisan berupa artikel, opini, terkait guru dan dunia Pendidikan.

Guru yang penulis akan banyak manfaatnya, tidak hanya bermanfaat bagi guru  tersebut untuk menjadi guru profesional sejati tetapi juga bagi peserta didik yang didorong untuk menulis. Peserta didik akan menjadikan guru yang penulis sebagai teladan atau panutan.

Seorang guru yang layak memberikan motivasi kepada peserta didik untuk menulis, yaitu ketika guru tersebut juga menulis. Guru idealnya tidak hanya menganjurkan peserta didik untuk menulis, tetapi guru juga harus aktif menulis, baik untuk konsumsi di sekolah maupun untuk masyarakat atau publik.

kesimpulan

Guru bukan hanya sebagai motivator, pengantar, tetapi juga sebagai model atau teladan bagi peserta didik dalam menikmati “Merdeka Belajar” yang salah satunya adalah kebebasan menulis. Guru penulis adalah guru yang merdeka. Merdeka Belajar, Guru Merdeka sesuai dengan peluang dan tantangan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Teman-teman guru, menulislah! Menulis untuk menjadi guru professional sejati, bukan  sekedar menulis untuk kenaikan pangkat.

Sumber artikel: www.cehate.com

Daftar Pustaka:

  1. PP nomor 74 tahun 2008
  2. Permen PANRB nomor 16 tahun 2009
  3. Peraturan bersama Mendiknas dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 tahun 2010.
  4. Kompasiana.com

Comment

News Feed