by

Cerpen – Cintai Takdirmu

Ada rasa yang tak dapat terukur.

Tersamar dengan jernihnya langit.

Berpadu dalam rimbunnya waktu.

Ia mengalir menembus ruang,

menuju takdir yang tak pernah salah.

***

Meraih mimpi dan cita – cita ialah hak setiap manusia. Tak terkecuali bagi Rinai, gadis desa berparas ayu yang tidak ingin terkungkung dalam sempitnya pengetahuan. Kecintaannya pada ilmu alam dan seisinya, serta cerita di masa lalu yang berhasil mengobarkan semangat meraih impiannya, mengantarkan ia menjadi seorang mahasiswi Teknik Geofisika.

Siang itu, rombongan mahasiswa Teknik Geofisika UGM tiba di kawasan Candi Gedong Songo. Perjalanan dari Yogyakarta yang memakan waktu sekitar 5 jam. Lantaran jalanan berbatu di sekitar area menuju candi membuat perjalanan harus ditempuh lebih lama.

Usai ishoma dan menaruh barang bawaannya di tempat penginapan, Rinai dan ketiga sahabatnya mulai menyiapkan berbagai peralatan dan bekal untuk survey. Perkuliahan yang mereka jalani sebagai mahasiswa Teknik Geofisika, mengharuskan setiap akhir semester mengadakan sebuah program besar. Mereka dituntut untuk melakukan kerja lapangan sekaligus berbakti sosial kepada masyarakat sekitar.

Jalan menuju kawasan candi sebenarnya tidak terlalu sulit bila ditempuh dengan berjalan kaki. Sekitar 15 menit perjalanan, Rinai dan kawan – kawannya tiba di tempat yang mereka tuju. Udara sejuk khas pegunungan menyapa. Pemandangan kota Semarang dari atas bukit terlihat samar tertutup awan polusi abu – abu yang menggantung di atasnya. Bangunan candi yang tampak kokoh berdiri di tengah lahan berbatu dan terjal serta cahaya dari mentari yang mulai turun ke ufuk barat, menyajikan pemandangan menyejukkan mata.

Tak terasa penelitian hari itu telah usai. Sembari duduk di sebuah batu yang kokoh di ujung bukit, Rinai menikmati pemandangan senja. Langit yang mulai menampakkan semburat warna nila dan bintang – bintang yang mulai menunjukkan kilaunya benar – benar menjadi obat lelahnya hari itu.

Pikirannya melayang, mengingatkan akan memori masa lalu yang indah. Memori dimana pertama kali ia merasakan perasaan yang tak tergambarkan.

Ario namanya. Sosok malaikat baginya dan keluarganya. Setelah kepergian ibunya saat Rinai masih berseragam merah putih, Ario datang mendekap segala sedih yang ia rasakan. Bahkan setiap ibunya memasak makanan, tak segan – segan ia bawakan agar Rinai dan ayahnya tetap bisa makan makanan yang lezat. Ia sudah dianggap seperti anak sendiri oleh ayah Rinai.

Saat itu, seperti biasa Ario datang berkunjung ke rumah selepas Isya’. Rumah sederhana di sebuah desa kecil. Tepatnya di daerah Mandiraja, Banjarnegara. Mereka mempunyai kebiasaan menikmati pemandangan langit malam bersama. Kali ini Ario membawa selembar tikar anyaman bambu. Di tangan kanannya ia membawa semangkuk kacang rebus yang masih mengepul.

“Untuk apa membawa tikar, kak?” Rinai yang baru saja keluar dari rumahnya bertanya kebingungan.

“Kita akan melihat bintang dari bukit Watu Sodong di belakang rumah. Ayo!” ujarnya sambil berbinar – binar.

Setelah berpamitan dengan Ayahnya, Rinai pun bergegas mengikuti Ario yang sudah melangkah lebih dulu.

Bukit belakang rumah yang terlihat suram dan tak berpenghuni, tampaknya membuat Rinai sedikit bergidik. Ario yang melihat gadis kecil itu tampak ketakutan, segera menggandeng tangannya.

“Kemarilah. Tak akan ada hantu yang mendekat. Sudah kuusir tadi pakai kacang rebus. Ia tak akan lapar malam ini.” ujarnya sambil menahan tawa.

“Barangkali ia sedang bersembunyi di balik pohon. Ingin ikut bergabung bersama kita.” Rinai menggerutu. Dalam ketakutannya, ia kesal karena candaan Ario yang menurutnya tak lucu.

Setelah menemukan tempat yang lapang, Ario menggelar tikarnya di tengah rerumputan. Cahaya lampu petromak milik para petani berbaur indah dengan nyamannya suara kodok di sawah yang terhampar dari ujung kaki bukit. Udara segar dan langit jernih penuh bintang di tengah suasana pedesaan yang asri, menjadi pemandangan yang menyamankan hati dan menjernihkan pikiran setiap penghuninya. Segera saja mereka berbaur dengan obrolan seru. Rinai bercerita akan kesulitannya menghadapi teman – teman yang nakal. Atau guru Matematikanya yang suka memberi banyak pekerjaan rumah. Ario hanya tertawa mendengarnya.

“Rinai, kakak sebentar lagi lulus sekolah, sepertinya kakak akan kuliah di Yogyakarta. Mungkin saja kakak akan jarang pulang,” ucap Ario di tengah pembicaraan mereka.

Rinai yang sedang asyik menatap langit tampak tak menunjukkan ekspresi apapun. Hatinya kelu. Tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Dalam lamunannya ia membayangkan tak akan ada lagi orang yang menemaninya di sini.

“Tapi, kakak akan kembali lagi ke desa ini, kan?” ujar Rinai penuh harap.

“Pasti. Kakak akan selalu rindu tempat ini,” ucap Ario. Matanya tak bisa lepas dari pandangan ke langit.

“Adik kecilku, jaga dirimu baik – baik ya. Jika rindu kakak, datanglah ke bukit ini. Ceritakan hari – harimu pada langit. Yakinlah, kakak di sana sedang mendengar ceritamu. Kita akan bercerita kepada langit yang sama.” timpalnya dengan senyum hangat mengembang di kedua pipinya.

“Kalau ada hantu, bagaimana kak?” dengan polosnya gadis kecil itu bertanya. Rupanya ia masih bergidik ketakutan.

“Hahaha! Kau bawa saja kacang rebus. Kemudian sebarkan di antara pepohonan. Ia tak akan lapar dan mengganggumu,” ucap Ario sembari mengelus kepala gadis kecil itu. Gemas karena pertanyaan polosnya.

Ada perasaan ganjil di hati Rinai. Perasaan senang karena candaan Ario, tetapi sedih karena artinya sebentar lagi ia tak dapat kembali menemui sosoknya yang penuh canda. Dan juga, entah apa namanya. Perasaan hangat di hatinya, yang mampu melengkungkan senyumnya dalam sedetik hanya dengan melihat wajahnya. Apakah ini cinta? Tapi, untuk seorang gadis kecil yang masih berkepang dua seperti dirinya? Apa mungkin? Dengan sosok lelaki yang menganggap dirinya adik? Sungguh, sebuah perasaan baru baginya. Perasaan yang membuat hari – hari selanjutnya menjadi penuh tanda tanya.

Begitulah pertemuan terakhir sebelum mereka berpisah. Ada rasa rindu yang teramat sulit dijelaskan. Karena dialah yang membuat Rinai sangat bersemangat menjalani perkuliahannya di Yogyakarta. Berharap suatu saat dapat menemui cinta pertamanya itu.

“Ah, andai kak Ario ada di sini..” gumamnya.

Suara panggilan dari teman – temannya menyudahi lamunan Rinai. Ia harus segera kembali karena hari sudah berganti malam. Jalan yang berbatu dan terjal menyulitkan perjalanan mereka kembali ke penginapan. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah bungalow tempat mereka bermalam. Lelah karena seharian mereka melakukan perjalanan jauh, membuat mereka ingin segera membenamkan diri dalam kasur yang empuk.

Usai melepas lelah dan membersihkan diri, telepon Rinai berdering. Rupanya ayahnya menelpon. Segera saja ia menjawab. Malam itu ayah berpesan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup adalah sebuah takdir yang harus dilalui. Manusia hanya bisa berencana, tetapi hasil yang didapatkan ialah kehendak-Nya. Saat kita tak dapat menerimanya, akan ada perasaan cemas dan takut yang tak berkesudahan. Sebaliknya, saat kita berusaha mencintai takdir kita, tenteram dalam hati yang akan didapatkan. Termasuk perasaannya pada Ario. Sebesar apapun kerinduannya untuk kembali bertemu, namun apa yang harus dikata. Ketika jalan yang mereka lalui harus berbeda. Terlebih, sudah 10 tahun lamanya Ario tak ada kabar. Menanti tanpa kepastian hanya akan membuatnya risau.

Sesaat kemudian, ia menutup pembicaraan dengan ayahnya. Kata – kata ayah yang menentramkannya, menjadi pelipur segala lelah. Perasaan lapang yang ia dapatkan. Berharap dengan segala kerelaannya, ia akan segera menemui takdir baiknya. Takdir yang akan dicintainya.

Belum lama ia meletakkan ponselnya di sebelah bantal, sebuah pesan Whatsapp masuk. Dari nomor yang tidak ia kenal. Ada perasaan tak enak yang melintas. Ia takut pesan tersebut dari seorang peneror atau mungkin lelaki tak jelas asal usulnya yang hanya ingin menggodanya. Sedikit ia mengintip dari notifikasi di layar ponselnya.

“Rin, Apa kabar? Ini aku. Ario.

Binar di matanya tak bisa ia sembunyikan. Senyumnya seketika mengembang. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin lepas dari relungnya. Benar kata ayahnya, mencintai takdir akan mengantar kita kepada cerita yang tak tertebak. Entah ia akan menemui kisah yang manis atau pahit getir sekalipun, ia tetaplah bagian dari cerita hidup kita. Takdir yang tak akan pernah salah tempat. Datang di saat yang tepat untuk kita.

***

Penulis : Putri Rahayu

Putri Rahayu
Putrinya ibuk, yang ingin belajar menulis.

Comment