“BUKIT SULISTIYO”, DESTINASI BARU WISATA RELIGI DI BANJARNEGARA

Sebuah bukit yang terletak di desa Kalitengah Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara. Sebuah tempat yang tidak populer sama sekali, namun sejak wafatnya seorang tokoh nasional yaitu DR Sulistiyo seorang tokoh pendidikan dan menjadi ketua PGRI, juga sebagai anggota BPD (Badan Perwakilan Daerah) sebagai wakil dari daerah Propinsi Jawa Tengah.

Monumen Dr Sulistiyo di Kalitengah

Dr Sulistiyo lahir di Banjarnegara 12 Februari 1962. Beliau  wafat pada tanggal 14 Maret 2016 dan dimakamkan di atas sebuah bukit desa Kalitengah yang sekarang bukit tersebut dinamai bukit Sulistiyo. Kalitengah adalah desa kelahiran tokoh yang satu ini. Sejak wafatnya beliau tempat pemakaman ini selalu didatangi oleh para peziarah. Peziarah ini tidak hanya berasal dari Banjarnegara tetapi juga dari daerah lain terutama para guru. Dr Sulistiyo adalah pejuang adanya tunjangan sertifikasi guru.

Perjalanan menuju ke desa Kalitengah dapat ditempuh dari ibu kota Kabupatan Banjarnegara menelusuri jalan propinsi jalur Semarang Purwokerto. Dari kota Banjarnegara ke arah arah barat (arah Purwokerto) KM 18 sampai di pertigaan Kalimendong belok ke Selatan (arah kiri) menuju desa Kalitengah sekitar 8 km.

Tanjakan Watu Celeng, Jalur Paling Ekstrim Menuju Bukit Sulistiyo

Jalan menuju Kalitengah di km 2 sampaidengan km 5 dari Merden kondisi jalan terjal dan berliku, pncaknya di tanjakan “watu celeng”. Tanjakan watu celeng yang begitu ekstrim, maka perlu berhati-hati bagi yang belum pernah melewati jalan ini. Dari km 2 Merden, kendaraan harus mulai pasang gigi rendah untuk persiapan jalan menanjak. Cukup memacu adrenalin kita untuk menyusuri jalan ini sampai ke desa Kalitengah. Kalau pengunjung takut membawa kendaraan sendiri, maka bisa menggunakan angkutan yang disediakan oleh pengelola yang akan mengantar Anda sampai ke tujuan.

Gunung Slamet dipandang dari bukit watu celeng

Begitu sampai di bukit setelah tanjakan watu celeng, terbayar sudah perjalanan  ekstrim tadi dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Saya belum tahu persis kapan tanjakan ini diberi nama watu celeng, nama yang aneh, kenapa watu celeng? Padahal di sekitar tempat itu tidak ada celeng, watu (batu) memang ada tapi celengnya tidak ada.

Masjid Yang Megah Telah Dibangun di Kompleks Monumen 

Perjalanan masih sekitar 2 km dari tanjakan watu celeng ini menuju bukit Sulistiyo, tempat berdirinya monumen Dr H Sulistiyo, M.Pd. Begitu masuk pintu gerbang monumen, di sebelah kiri gerbang masuk dibangun sebuah masjid yang megah dan indah. Bangunan masjid yang dibangun menghabiskan biaya 1,4 M berada di komplek pemakaman Dr Sulistiyo ini. Begitu menengok arah kanan dari pintu gerbang tampaklah monumen Dr Sulistiyo ini.

Gerbang masuk kompleks monumen

Kita dapat naik ke monumen tersebut melalui tangga yang berada di tengah monumen atau lewat jalan melingkar di sebelah utara monumen. Kalau lewat jalan lingkar kendaraan bisa masuk di areal pemakaman Dr Sulistiyo dan parkir di areal tersebut di depan gazebo-gazebo, dan makam Dr Sulistiyo.

Gazebo-gazebo di kompleks pemakaman

Para pengunjung bisa berziarah di makam tersebut, setelah selesai bisa menikmati pemandangan disekitar bukit dari gazebo-gazebo yang telah dibangun.

Masjid megah di kompleks monumen

Berkunjung ke monumen Dr Sulistiyo berarti kita bisa berwisata alam sekaligus wisata religi. Monumen ini masih terus ada pembenahan-pembenahan dan kelengkapan fasilitas yang diperlukan pengunjung, dan sudah dimulai kerjasama dengan biro wisata di wilayah eks Karesidenan Banyumas.

 

Facebook Comments
__Posted on
January 13, 2020
__Categories
Destinasi Wisata
1
Avatar

Author: Wartini, S.Pd. Bio

Guru Go Blog, hobi menulis buku. Suka tantangan, penyuka kopi hitam. Seorang ibu dari 2 anak. Melalui blog ini berbagi inspirasi untuk kalangan guru dan masyarakat.

One comment on ““BUKIT SULISTIYO”, DESTINASI BARU WISATA RELIGI DI BANJARNEGARA”

  1. Dengan membaca blog ini,kami bagaikan melihat sendiri keindahan keindahan bukit sulistyo,dan semakin ingin ke sana.ayoooo bu wartini kami tunggu tulisan berikutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *