by

BERBURU BATIK RUJAK SENTHE, DALAM RANGKA ACARA KIRAB HARI JADI BANJARNEGARA

Hari jadi Banjarnegara mengalami perubahan, hal ini sesuai dengan kajian para ahli sejarah. Peringatan hari jadi Banjarnegara yang dulu, sebelum ada perda yang baru adalah tanggal 22 Agustus satu rangkaian dengan Festival Dieng Culture. Tetapi mulai tahun 2020 ini peringatan hari jadi Banjarnegara menjadi tanggal 26 Februari. Adakah yang salah dengan sejarah? Bukan masalah benar salah tentang perubahan hari jadi ini. Kedua hari jadi ini sesuai dengan dokumen sejarah yang ada. Keputusan menetapkan hari jadi tanggal 26 Februari ini dinilai lebih heroik, dan usia kabupaten Banjanegara bertambah 260 tahun.

Selisih hari jadi yang ratusan tahun ini berpengaruh ke hasil kebudayaan saat itu. Salah satunya adalah motif batik. Motif batik yang digunakan pada peringatan hari jadi Banjarnegara adalah motif batik yang lebih kuno, yaitu motif batik yang paling dasar dan tentunya lebih sederhana.

Rujak Senthe, Motif Batik Kuno Yang Lebih Sederhana Sesuai Hari Jadinya lebih Tua 260 Tahun

Batik rujak senthe, motif ini selalu identik dengan dengan garis-garis diagonal yang bermotif. Biaanya paling tidak terdiri dari 7 motif batik, diantaranya : lidah api, setengah kawung, banji sawit, mlinjon, tritis, ada-ada, dan watu walang.

Batik tulis, motif Rujak Senthe

Rujak senthe dari kata rujak  yang tentu langsung terfikirkan berbagai macam buah-buahan yang diberi sambal rujak (gula jawa, cabe, sedikit garam dan terasi) yang akan memberikan rasa kesegaran dan kenikmatan dan rasa pedas bagi yang makan. Merupakan sensasi yang bermacam-macam: manis, asin, asam, pedas merupakan sensasi rasa yang bermacam-macam.

Oleh karena itu motif rujak senthe terdiri dari berbagai motif yang memberikan rasa senang bagi pemakainya. Pada zaman dulu motif ini termasuk motif larangan yang hanya diperkenankan dikenakan oleh keluarga kerajaan.. namun dengan berjalannya waktu, motif ini diperkenankan dipakai siapa saja.

Lika-Liku Perburuan Busana Untuk Kirab Hari Jadi, Sungguh Menantang

Aku seorang penulis, maka semua momen-momen yang aku lalui sehari-hari adalah untuk bahan tulisanku, apalagi momen yang spesial seperti yang terjadi hari ini yaitu mempersiapkan busana kirab hari jadi Banjarnegara.

Perburuanku dimulai saat mendapatkan surat pemberitahuan dari Kecamatan Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara bahwa saya termasuk pasukan kirab hari jadi Banjarnegara. Di surat itu juga diinformasikan dresscode saat acara kirab ini. Untuk pasukan kirab baik laki-laki maupun perempuan menggunakan kain (jarit) batik rujak senthe. Yang perempuan atasannya adalah kebaya warna hitam dengan kuthu baru warnanya sama dengan kerudungnya (kalau mau berkerudung) dan yang laki-laki atasannya berupa beskap warna hitam dan blangkon batik rujak senthe.

Aku mulai dengan menghubungi teman yang ada di sentra batik tulis  Banjarnegara yaitu di desa Gumelem kecamatan Susukan, akhirnya kami janjian untuk cari bareng batik rujak senthe ini.

Rumah Batik, tempat pengepul batik dari pengrajin di desa Gumelem

Pertama yang kami tuju adalah rumah Ibu Sutirah (terkenal dengan sebutan Bu Manten), beliau adalah pengepul batik dari pengrajin batik yang ada di Gumelem. Papan nama yang terpasang tertulis: Rumah Batik Setia Usaha Gumelem. Setelah saya menunggu cukup lama, tapi rumah sepi seperti tidak ada penghuninya, mungkin lagi pergi.

Wardah Batik, Desa Penarusan

Perburuan masih berlanjut, menuju ke desa Panerusan Wetan. Dari desa Gumelem masih ke barat jalur jalan Susukan – Banyumas sekitar 3 km. Kami berhenti di “Wardah batik” desa Penerusan Wetan. Akhirnya di situ bisa ketemu pemiliknya langsung yaitu pak Budi. Banyak informasi yang saya dapat dari pak Budi ini tentang masalah batik. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli kain batik dan bahan kebaya sekalian.

Motif Batik Rujak Senthe

Karena waktunya yang sudah mepet untuk dipakai kirab hari jadi, maka selanjutnya saya berburu tukang jahit yang sanggup untuk menjahit dalam waktu 4 hari. Perjalanan aku lanjutkan ke tukang jahit langgananku di desa Mandiraja Wetan. Yang biasanya kalau menjahit perlu waktu paling cepat satu bulan, kemarin saya paksakan untuk menyelesaikan dalam waktu 4 hari

Penjahit langgananku ini menyanggupi, walau saya tahu di situ antriannya banyak. “semoga saya sehat dan tidak ada listrik padam bu” kata tukang jahitnya. Semoga semua lancar dan busana itu bisa aku pakai saat kirab hari jadi. Silakan Anda tunggu tulisanku tentang kirab hari jadi Banjarnegara yang ke 449 tanggal 26 Februari 2020.

Bersambung

About Author: Wartini, S.Pd. Bio

Avatar
Guru Go Blog, hobi menulis buku. Suka tantangan, penyuka kopi hitam. Seorang ibu dari 2 anak. Melalui blog ini berbagi inspirasi untuk kalangan guru dan masyarakat.

Comment

News Feed