by

“BEGALAN” TRADISI BANYUMASAN YANG PENUH MAKNA

Acara ijab qabul pengantin sudah selesai. Secara agama dan secara hukum negara sudah sah menjadi pasangan suami istri. Alhamdulillah, acara berikutnya adalah upacara adat “begalan”demikian pembawa acara memandu acara. Acara adat begalan ini berlangsung di desa Susukan kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara, termasuk wilayah eks karesidenan Banyumas.

Adat Begalan di Susukan Banjarnegara

Dengan iringan gamelan yang melantunkan gending-gending Banyumasan, bersamaan dengan itu muncullah dua orang penari pria yang berpakaian adat Jawa. Satu penari membawa/memikul barang-barang alat dapur antara lain : iyan, cething, siwur, kukusan,ilir, dll. Alat-alat dapur yang digunakan untuk acara adat begalan disebut brenong kepang.

Barang-barang yang dibawa itu merupakan simbol dari pesan yang akan disampaikan dalam begalan. Pada zaman dahulu begalan digunakan untuk acara ruwatan atau ritual pembersihan diri.seiring dengan perjalanan waktu begalan diadakan dalam ritual pernikahan adat Jawa khususnya adat Banyumas yang mengandung pesan atau rambu-rambu bagi pengantin.

Brenong Kepang

Pelaksanaan tradisi begalan, diselenggarakan jika yang dinikahkan anak pertama dengan anak pertama, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak terakhir dengan anak terakhir. Adat begalan ini sekarang mulai jarang dilakukan. Hanya di beberapa daerah tertentu di wilayah eks karesidenan Banyumas (kab. Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara). Salah satunya adalah di desa Sususkan ini, karena di wilayah ini masyarakatnya masih memegang kuat tradisi/adat Banyumas. Salah satu faktornya di Susukan initerdapat situs tua yaitu Girilangan dan Kademangan Gumelem.

Begalan berasal dari bahasa Jawa yang artinya perampokan. Tradisi begalan muncul sejak pemerintahan Bupati Banyumas ke XIV (Raden Adipati Tjokronegoro, 1850). padasaat itu Adipati Wirasabapunya hajat menikahkan putri bungsunya yaitu Dewi Sukesi dengan Pangeran Tirtokencono, putra sulung Adipati Banyumas. Saat ngunduh mantu sang Adipati Banyumas berkenan memboyong kedua mempelai dari Wirasaba ke Kadipaten Banyumas.

Setelah menyeberang sungai Serayu dengan menggunakan perahu tambang, rombongan dikawal oleh para sesepuh, di tengah perjalanan melewati tempat yang angker dihadang oleh seorang begal (perampok) berbadan tinggi besar, hendak merampas semua barang bawaan pengantin. Terjadilah perkelahian antara perampok dengan para pengawal dan akhirnya si begal bisa dikalahkan. Si begal akhirnya melarikan diri masuk ke hutan yang angker dan wingit. Perjalanan dilanjutkan kembali melewati desa Sokawera dan Kedunguter.

Sejak peristiwa itulah para leleuhur Banyumas berpesan kepada anak cucu agar mentaati tata cara persyaratan perkawinan, dikandung maksud kedua mempelai terhindar dari marabahaya.

Tradisi Begalan, Sebagai Pitutur Jawa Menggunakan Simbol-simbol Yang Memiliki Makna Dan Filosofi Tinggi.

Acara begalan diperankan oleh dua orang penari, satu orang membawa/ memikul arang-barang peralatan dapur (brenong kepang) yang bernama Gunareka dan yang satu lagi berperan sebagai begal/ perampok yang bernama Rekaguna. Peralatan dapur yang dibawa tersebut mempunyai makna dan pesan untuk penganten pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Barang yang dibawa diantaranya adalah pikulan, iyan,kukusan, ilir, enthong, dan lain-lain. Masing-masing barang tersebut mempunyai makna tertentu dan sebagai nasehat.

  1. Pikulan, mempunyai makna bahwa dalam berumah tangga harus mempunyai keseimbangan yaitu keseimbangan antara pengantir pria dan wanita.
  2. Iyan (tampah berbentuk segi empat), mempunyai makna bahwa pasangan pengantin harus siap hidup di lingkungan masyarakat.
  3. Ilir, mempunyai makna ketika salah satu dari pasangan pengantin tersebut sedang marah maka yang satunya harus bisa mendinginkan atau ngadem-ngademi, Hal ini sama dengan ilir yang digunakan ketika sedang kegerahan atau kepanasan.
  4. Kukusan (tempat menenak nasi), mempunyai makna supaya dalam berumah tangga kebutuhan pokoknya bisa terpenuhi.
  5. Centhong, mempunyai makna bahwa penganin pria harus bertanggung jawab dan bekerja keras.

Sebetulnya masih banyak alat-alat dapur yang lain yang perlu penjelasan, karena brenong kepang itu isinya komplit  semua peralatan dapur, dan semua memiliki makna yang berisi nasehat untuk pengantin yang baru saja menikah. Dengan harapan nasehat yang berupa simbol-simbol ini bisa menjadi bekal pengantin dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang baru saja dibangun.

Adat begalan adalah kearifan lokal daerah Banyumas, yang menunjukkan pitutur (nasehat) untuk pengantin baru (manfaat juga untuk pengantin lama) dengan simbol-simbol penuh makna.

About Author: Wartini, S.Pd. Bio

Avatar
Guru Go Blog, hobi menulis buku. Suka tantangan, penyuka kopi hitam. Seorang ibu dari 2 anak. Melalui blog ini berbagi inspirasi untuk kalangan guru dan masyarakat.

Comment

News Feed